BAB 22: Detik yang Tak Terjawab

 BAB 22: Detik yang Tak Terjawab

Sejak hari itu, Hannah jadi lebih peka. Dia mula stalk akaun media sosial Danial — yang dulunya dia tak pernah ambil kisah pun.


Dia buka satu persatu foto-foto lama dan baru, baca komen, cari nama wanita yang mungkin… ‘elegan dan matang’ itu.


Sampai akhirnya — dia jumpa satu nama: Maira Sofea.


Seorang pensyarah muda, sahabat lama keluarga Danial. Bukan cantik luar biasa, tapi aura dia tenang dan kemas — jenis yang senyuman dia tak terlalu lebar, tapi cukup buat orang rasa selesa.


Hannah buka profil, selongkar. Tak banyak yang peribadi. Tapi ada satu gambar bulan lepas — Danial ada komen ringkas:


“Alhamdulillah. Proud of you, Mai.”


Dan Maira balas:


“Thank you, Dan. You always believe in me.”


Hannah baca ulang-ulang. “You always believe in me…”


Kenapa ayat tu lebih sakit dari apa-apa komen mesra lelaki lain pada dia?

Comments